Saat taaruf aku selalu mencari-cari hal apa yang bisa membuatku
tertarik padanya, selain agamanya. Karena Rasulpun menganjurkan untuk
melihat calon kita sebelum menerimanya, untuk mencari apa yang menarik
pada dirinya sehingga bersegera untuk menikahinya. Dan, ya.. saat proses
itu berjalan, terkadang aku sering membandingkan dengan mereka yang
sebelumnya pernah melamar dan mendekatiku.
Dia tidak pintar, bahkan aku merasa aku lebih pintar dari dirinya.
Dia hanya lulusan sebuah sekolah yang namanya entah terdaftar di mana.
Sedangkan aku, aku salah satu lulusan dari perguruan tinggi terkenal di
Negeri ini dengan predikat yang membanggakan.
Dia tidak kaya, karena pekerjaannya pun masih serabutan. Seorang yang
sedang berusaha menjadi wirausahawan. Dan kau tahu, saat taaruf dia
hanya menyampaikan rencananya untuk berwiraswasta di bidang peternakan,
yang tentu saja rencana itu bisa jalan dan bisa juga tidak. Dan
lagi-lagi aku merasa lebih kaya darinya, karena penghasilanku yang
bahkan sekian kali lipat lebih banyak darinya.
Dia tidak seterkenal diantara kawan-kawan pengajianku. Aku ingat
setiap kali mendapat undangan pernikahan dari kawan-kawan, dan selalu
melihat siapa calon pasangannya. Ah, ternyata Mas A yang suka ngisi
dimana-mana itu, ternyata Mas B yang seorang trainer itu, ternyata Mas C
yang ketua majelis itu dan yang lainnya. Dan lagi-lagi aku merasa lebih
terkenal darinya, aku pernah jadi pengurus ini, pernah jadi trainer
itu, belum lagi nama dan fotoku yang beberapa kali termuat di media
cetak karena tulisanku yang terpublikasi.
Dan saat bertemupun, aku tak mendapati wajah dan penampilan ala Keanu
Reeves, Matt Damon, Tom Cruise ataupun George Clooney, bintang-bintang
film Hollywood yang dulu pernah menjadi idolaku. Sekalipun aku tak
secantik Winona Ryder, Anne Hathaway, Katie Holmes ataupun Kajol, tapi
berharap dari fisik yang menarik tidaklah salah selama bukan tujuan
utama.
Dan entah mengapa, aku menerimanya. Aku merasa Allah lah yang
menggerakkan semuanya, termasuk saat lidahku mengucapkan, “Ya, aku
menerimanya, insyaAllah”, hingga aku masih tak percaya, dua minggu sudah
aku resmi menjadi istrinya.
Dulu aku berpikir, entah berapa lama aku membutuhkan waktu untuk bisa
jatuh cinta padanya, seperti rasa yang pernah kuhadirkan pada sekian
laki-laki sebelum dia. Mampukah aku dengan sepenuh hati menjadi
permaisuri yang begitu mencintai sang raja? Ah, sebuah rentetan keraguan
yang panjang….
Hingga…
Hanya butuh seminggu saja… ya… seminggu saja… aku telah dibuatnya
jatuh cinta…, karena dia mampu membuatku menjadi anak-anak, perempuan
dewasa, seorang ibu, seorang pekerja, sekaligus seorang pengemban
dakwah.
Dia sungguh bisa membuatku merajuk dan manja layaknya anak-anak,
diapun bisa membuatku menjadi pengambil keputusan layaknya perempuan
dewasa, dia mampu membuatku terampil mengatur banyak hal layaknya
seorang ibu, diapun tahu untuk selalu membantuku menjadi seorang pekerja
yang berhasil, sekaligus seorang pendukung luar biasa untuk aktivitas
dakwahku…
Kini aku tak berpikir lagi, tentang dia yang pintar itu, tentang dia
yang kaya itu, tentang dia yang namanya banyak disebut itu, atau tentang
dia yang setampan arjuna itu… karena ternyata kini, aku mendapatkan
yang lebih baik…
Ya, dia pintar merebut hatiku, dia kaya akan sikap dan tutur kata
yang membuatku terpesona, dia memang tak dikenal manusia, tapi aku yakin
semangatnya untuk berjuang di jalan Allah, semoga membuat Allah semakin
mengenalnya, dan tak ada yang lebih tampan dari seorang lelaki yang
membuat para bidadari surga cemburu padanya…
Sumber : http://qousa.wordpress.com/category/jejak-hati/
Suamiku, Allah telah membuatku jatuh cinta padamu… subhanallah wal hamdulillah wallahuakbar…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar